Dr. Muhammad Ridwan Arif

Perguruan Tinggi Harus Mampu Hidup di Dua Alam

Transisi kepemimpinan ini, bagi penulis, bukan hanya sebagai mekanisme organisasi semata, namun sebagai suatu momentum untuk menjadikan lembaga ini lebih dinamis di masa depan.

Apalagi disadari bahwa tantangan dunia pendidikan tinggi semakin kompleks memasuki era revolusi industri 4.0. Sedikit catatan pemikiran dan ide atas momentum ini, semoga bisa dijadikan referensi bagi kepemimpinan UNIFA ke depan.

Sebagaimana ramai didiskusikan, masyarakat dunia mengalami revolusi industri 4.0. Disebut sebagai revolusi industri, karena perkembangan teknologi sekarang ini berefek ke hampir semua aspek kehidupan manusia.

Teknologi digital memasuki dimensi kehidupan manusia tak terkecuali, yang (semoga) memudahkan manusia berkehidupan. Termasuk pendidikan yang disepakati sebagai salah satu unsur yang paling prominent.

Akibat dimudahkannya kehidupan manusia dengan teknologi, pengetahuan yang dahulunya bersifat struktural formal untuk diperoleh, sekarang ini sudah menjadi mudah diakses. Adanya internet menjadikan akses pengetahuan tidak lagi sulit, bahkan semua pembelajar mampu untuk mendapatkannya.

Muncullah pertanyaan di masyarakat tertentu, apakah kita masih memerlukan ijazah, yang merupakan simbol proses pendidikan formal struktural? Hal ini mencuat dengan adanya fenomena home schooling dan yang sempat viral di sosial media adalah perusahaan besar dunia tidak mensyaratkan ijazah dalam proses rekruitmen pegawai.

Fenomena di atas menjadi sebuah tantangan besar bagi perguruan tinggi untuk segera melakukan adaptasi cepat. Perubahan lingkungan sosial masyarakat harus segera direspons oleh institusi pendidikan sekarang ini dengan mindset pengelolaan yang benar dan tepat. Jika tidak, institusi tersebut akan punah, mungkin juga industrinya yang ikut punah.

Adaptasi terhadap perubahan lingkungan menjadi keharusan, namun itu mengandung risiko karena adanya investasi fisik dan investasi mental manajemen terhadap perubahan. Dilain pihak, institusi diharapkan mampu efisien dalam pengelolaan, sebagai salah satu cara untuk sustainable di era persaingan.

Kedua kondisi ini dinilai bersifat paradoks, kontradiksi satu sama lain. Jika mampu dilakukan secara bersamaan, maka institusi masuk dalam situasi yang dikenal sebagai “ambidexterity organization” (Duncan, 1976) . Berasal dari kata “Ambi” (atau amphi Bahasa Yunani) yang berarti dua sisi, dan dexterity yang berarti kemampuan.

Penulis mencoba menerjemahkan ke dalam istilah yang mudah dipahami yaitu organisasi yang memunyai kemampuan untuk bermanuver di dua kondisi yang berbeda (hidup di dua alam, amfibi). Konsep ambidexterity organization pada dasarnya adalah kemampuan eksplorasi dan eksploitasi, alignment dan adaptasi, fleksibilitas dan efisiensi. Dalam konteks pengelolaan pendidikan tinggi kekinian, konsep ambidexterity terkait dengan adaptasi dan efisiensi.

Strategi pengelola institusi beradaptasi terhadap perubahan adalah proses menyesuaikan proses akademik dengan kebutuhan industri di masa sekarang dan di masa depan (eksplorasi). Institusi senantiasa mencari model pembelajaran baru yang cocok di masa depan.

Misalnya, siklus revisi kurikulum beserta perangkat turunannya harus semakin pendek, seiring dengan semakin pendeknya siklus hidup produk atau jasa di pasaran.

Interaksi akademik di kampus harus memotivasi munculnya inovasi yang bisa menghasilkan nilai tambah ekonomis dan sosial di luar kampus. Juga, metode pembelajaran sudah harus bersifat multiplatform atau istilah lainnya adalah blended learning. Ruang kelas harus tidak lagi dimaknai dengan ukuran “3 kali 5 meter”, namun sudah tidak terbatas oleh ruang fisik.

Kebijakan eksplorasi ini punya konsekuensi investasi. Investasi pada infrastruktur dan yang tidak kalah pentingnya adalah investasi mental untuk berubah. Investasi infrastruktur berdampak pada aspek finansial, sedangan investasi mental pada kerelaan untuk tidak berada pada zona nyaman.

Di lain pihak, perguruan tinggi sebagai organisasi yang bertujuan jangka panjang senantiasa dituntut untuk selalu efisien dalam pengelolaannya (eksploitasi). Efisiensi muncul karena adanya keterbatasan sumber daya. Kemampuan manajerial pengelola disyaratkan untuk mampu mengelola sumberdaya yang dimiliki dan diakses, untuk mampu dinamis.

Kemampuan ini juga akan memengaruhi mutu akademik yang menjadi jargon utama pengelolaan pendidikan. Intinya, konsep efisiensi dan efektivitas mengarah kepada peningkatan mutu aktivitas tri dharma perguruan tinggi. Kebijakan eksploitasi juga mengandung konsekuensi, yaitu organisasi cenderung terperangkap dalam kondisi lembam atau inersia.

Menyeimbangkan dua alam mindset ini dalam pengelolaan akan memengaruhi kelincahan (agility) dalam bersaing dengan institusi lainnya sekaligus menjawab permasalahan masyarakat milenial. Belum lagi, kita dihadapkan oleh regulasi pemerintah yang semakin rigid dan kompleks.

Ini hal positif karena mendorong untuk terciptanya kualitas pendidikan yang semakin baik.

Sumber: http://fajaronline.co.id/read/65163/perguruan-tinggi-harus-mampu-hidup-di-dua-alam

Please follow and like us:
1
Categories: Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.